Semangat Bahari: Tradisi Menggotong Perahu di Desa Lawata
Minggu, 12 April 2026 — Suasana pesisir Desa Lawata hari ini tampak berbeda dari biasanya. Sejak matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur, keriuhan sudah terdengar di salah satu sudut rumah warga. Hari ini bukan sekadar hari libur, melainkan hari perayaan syukur atas selesainya pembuatan sebuah perahu baru milik salah satu warga setempat.
Bagi masyarakat Desa Lawata yang mayoritas penduduknya
menggantungkan hidup sebagai nelayan, perahu bukan sekadar alat transportasi.
Perahu adalah simbol harapan, napas ekonomi, dan teman setia di tengah ganasnya
ombak.
Tradisi Turun-Temurun: Menggotong Perahu
Puncak acara hari ini adalah ritual "Menggotong Perahu"
menuju bibir pantai. Di zaman yang serba modern ini, warga Desa Lawata tetap
teguh menjaga tradisi leluhur. Alih-alih menggunakan mesin berat, perahu kayu
yang gagah itu dipindahkan menggunakan tenaga manusia—kekuatan bahu dan
semangat kebersamaan.
Momen ini menjadi pemandangan yang sangat ikonik:
·
Komando yang Kompak: Seorang tetua adat atau pemilik
perahu memberikan aba-aba.
·
Bahu-Membahu: Puluhan pria dewasa berjejer di sisi
kanan dan kiri perahu, mengangkat beban ratusan kilogram dengan irama langkah
yang sama.
·
Dukungan Moral: Para ibu dan anak-anak berkumpul di
sepanjang jalan kecil desa, memberikan semangat dan doa agar perahu tersebut
membawa berkah bagi pemiliknya.
Lebih dari Sekadar Memindahkan Benda
Kegiatan menggotong perahu ke laut ini mengandung
filosofi mendalam bagi masyarakat Lawata. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong yang masih sangat
kental. Tidak ada bayaran materi dalam kegiatan ini; yang ada hanyalah rasa
persaudaraan. Jika hari ini kita membantu tetangga menurunkan perahunya, besok
lusa saat kita membutuhkan bantuan, mereka akan hadir dengan semangat yang
sama.
"Perahu
ini mungkin hanya kayu, tapi doa dan keringat seluruh warga desa yang
mengantarnya ke laut adalah mesin yang sebenarnya."
Harapan Baru di Laut Lepas
Setelah melalui proses gotong-royong yang melelahkan
namun penuh tawa, perahu akhirnya menyentuh air laut untuk pertama kalinya.
Sebuah ritual kecil biasanya menyusul sebagai bentuk permohonan keselamatan
kepada Sang Pencipta agar sang nelayan selalu dilindungi dan dipulangkan dengan
hasil tangkapan yang melimpah.
Desa Lawata kembali membuktikan bahwa identitas sebagai
masyarakat nelayan tidak akan pernah luntur selama tradisi seperti ini tetap
dijaga. Laut mungkin luas dan penuh tantangan, namun dengan kebersamaan, beban
seberat apa pun akan terasa ringan.

Komentar
Posting Komentar